Jurnalisme yang Beretika

Jurnalisme yang Beretika
Oleh Ludhy Cahyana

Kebebasan informasi sejak peralihan pemerintahan dari Orde Baru ke era reformasi membawa dampak yang luar biasa terhadap kebebasan pers. Tak ada lagi breidel tak ada lagi penyelesaian pidana untuk pemberitaan yang dianggap merugikan pihak lain.

Sejak lahirnya UU No Tahun 1999 Mengenai Pers, kebanyakan delik mengenai pemberitaan diselesaikan melalui dialog antara pembuat berita dan obyek berita. Bukan lagi menggunakan pendekatan Kitab Undang-undang Hukum Pidana [KUHP]. Bentuk-bentuk penyelesaian konflik akibat pemberitaan biasanya melalui: Hak Jawab, Hak Koreksi, dan Kewajiban Koreksi.

Ini sebuah langkah maju bagi demokrasi di Indonesia, bila merujuk kasus-kasus delik pers sebelumnya. Yang selalu menempatkan pemberangusan kepada pers, yang tentu saja mengakibatkan tersumbatnya arus informasi sebagai bahan dasar terbentuknya citizenship atau kewargaan. Era reformasi seperti membebaskan pekerja pers dari berbagai bentuk sensor pemerintah juga terhadap sensor terhadap diri sendiri.

Toh, kebebasan informasi ini juga berakibat buruk terhadap dunia kewartawanan Indonesia. UU No 40 itu, memberi kemudahan yang luar biasa terhadap berdirinya media massa baru. Akibatnya, sangat mudah seseorang mengubah status menjadi wartawan, tanpa melalui rekrutmen yang benar. Pelatihan bahkan pendidikan akademis seperti terabaikan sama sekali. Walhasil, sesaat setelah reformasi bergulir terjadi semacam chaos dalam dunia kewartawanan. Pembuatan berita mengabaikan cek dan ricek dan coverboth side, disiplin verifikasi diabaikan karena ketidaktahuan atau kesengajaan lantaran pekerja pers tidak memahami kode etik jurnalistik. Istilah wartawan amplop atawa wartawan bodrex – wartawan tanpa surat kabar, menjadi popular di kalangan perusahaan atau instansi pemerintah.

Di sisi lain, dalam tubuh media terdapat ancaman klasik: yakni bagaimana menjaga keseimbangan antara tujuan bisnis dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, seperti tak ada habisnya.

Menurut Andreas Harsono, wartawan senior, pers harus selalu awas, untuk menjaga jangan sampai kepentingan bisnis merasuk ke dalam ruang redaksi. Seperti pertanyaan Kovach dan Rosenstiel menerangkan elemen kedua dengan bertanya, “Kepada siapa wartawan harus menempatkan loyalitasnya? Pada perusahaannya? Pada pembacanya? Atau pada masyarakat?”

Pertanyaan itu penting karena sejak 1980-an banyak wartawan Amerika yang putar haluan menjadi pebisnis. berubah jadi orang bisnis. Jamak terjadi, pada saat ini, sepertiga waktu wartawan dipergunakan untuk bisnis. Entah yang berkaitan dengan perusahaan pers tempat dia bekerja, semisal membantu iklan. Atau melakukan kerja di luar perusahaan pers, tapi dengan menggunakan privilege-nya sebagai wartawan, semisal menjadi tenaga public relation di perusahaan-perusahaan tertentu.

Mari melihat dua contoh. Pada 1893 seorang pengusaha membeli harian The New York Times. Adolph Ochs percaya bahwa penduduk New York capek dan tak puas dengan suratkabar-suratkabar kuning yang kebanyakan isinya sensasional. Ochs hendak menyajikan suratkabar yang serius, mengutamakan kepentingan publik dan menulis, “… to give the news impartiality, without fear or favor, regardless of party, sect or interests involved.”

Pada 1933 Eugene Meyer membeli harian The Washington Post dan menyatakan di halaman suratkabar itu, “Dalam rangka menyajikan kebenaran, suratkabar ini kalau perlu akan mengorbankan keuntungan materialnya, jika tindakan itu diperlukan demi kepentingan masyarakat.” Prinsip Ochs dan Meyer terbukti benar. Dua harian itu menjadi institusi publik yang prestisius sekaligus bisnis yang menguntungkan.

Kovach dan Rosenstiel khawatir banyaknya wartawan yang mengurusi bisnis bisa mengaburkan misi media dalam melayani kepentingan masyarakat. Bisnis media beda dengan bisnis kebanyakan. Dalam bisnis media ada sebuah segitiga. Sisi pertama adalah pembaca, pemirsa, atau pendengar. Sisi kedua adalah pemasang iklan. Sisi ketiga adalah masyarakat (citizens).

Berbeda dengan kebanyakan bisnis, dalam bisnis media, pemirsa, pendengar, atau pembaca bukanlah pelanggan (customer). Kebanyakan media, termasuk televisi, radio, maupun dotcom, memberikan berita secara gratis. Orang tak membayar untuk menonton televisi, membaca internet, atau mendengarkan radio. Bahkan dalam bisnis suratkabar pun, kebanyakan pembaca hanya membayar sebagian kecil dari ongkos produksi. Ada subsidi buat pembaca.

Adanya kepercayaan publik inilah yang kemudian “dipinjamkan” perusahaan media kepada para pemasang iklan. Dalam hal ini pemasang iklan memang pelanggan. Tapi hubungan ini seyogyanya tak merusak hubungan yang unik antara media dengan pembaca, pemirsa, dan pendengarnya.

Bagaimana Menulis dengan Etika?
Etika dalam penulisan berita, adalah bagaimana menempatkan fakta atau realita pada daftar paling atas. Mengapa netralitas atau ketidakkeberpihakan tak dicantumkan? Netralitas juga ketidakberpihakan adalah sebuah utopia, sebab tak satupun teks dalam hal ini berita mampu terbebas dari nilai yang berlaku pada suatu masyarakat, di suatu zaman.

Maka pilihan pertama, bagaimana mewujudkan jurnalisme yang beretika adalah bagaimana wartawan mampu meraih kebenaran yang berdasarkan realitas atau fakta yang terjadi. Kebenaran, dalam proses pengerjaaan berita bukan sesuatu yang tiba-tiba bisa diraih. Kebenaran itu harus melalui proses klarifikasi dalam bentuk cek dan ricek, sehingga bukan hanya komentar tapi sesuatu yang riil, yang hanya bisa dibangun dengan disiplin, menggunakan mata dan telinga.

Sehingga, wartawan pada akhirnya menulis bukan hanya mengutip komentar tapi menulis pada sesuatu yang terjadi, yang kasat mata. Dengan melakukan pengamatan langsung. Bukan berdasar asumsi atau prasangka.

Pada akhirnya, jurnalistik yang beretika, adalah suatu kegiatan menyebarkan informasi dengan menjaga bagaimana informasi itu mampu menyodorkan realitas yang sebenarnya. Bebas dari kepentingan manajemen, juga kepentingan-kepentingan lainnya. Dan ditentukan pula oleh hati nurani pekerja media, apakah berita ini membahayakan semua orang atau mampu menyelamatkan umat manusia

Posted on 12 Agustus 2009, in Ldii Artikel and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: